Iwan Fals (2010)
Negeri ini memang kaya
Kaya orangnya, kaya binatangnya
Negeri ini memang kaya
Kaya alamnya, kaya budayanya
Negeri ini memang kaya
Kaya pejabatnya, kaya penjahatnya
Negeri ini memang kaya
Kaya idenya, kaya sejarahnya
Negeri ini memang kaya
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Hei, Bung Karno...
Nyenyakkah tidur abadimu
Kudatang mengganggu istirahatmu
Negeri ini memang kaya
Kaya rakyatnya yang menangis diujung parang
Kaya harapan, kaya agamanya
Merah putih termangu
Terkulai berdebu dipojok gedung bekas penjajah
Pancasila meronta
Garuda tertatih melayang pergi
Negeri ini memang kaya
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Sebarkan kembang ibu yang letih
Hei, Bung Karno...
Nyeyakkah tidur abadimu
Inikah nyanyian kecewa
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Akankah kisahmu menjadi api
Hei, Bung Karno...
Nyenyakkah tidur abadimu
Dingin yang aneh menyiksa negeri
Merah putih termangu
Terkulai berdebu dipojok gedung bekas penjajah
Pancasila meronta
Garuda tertatih melayang pergi
Negeri ini memang kaya
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Maafkanlah aku yang cengeng
Hei, Bung Karno...
Nyeyakkah tidur abadimu
Tularkan keberanianmu itu
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Suaramu menggelegar di kalbu
Hei, Bung Karno...
Nyeyakkah tidur abadimu
Biarlah mimpi itu kan nyata
Negeri ini memang kaya
Kaya penguasanya yang miskin hatinya
Kaya marahnya Indonesia Raya
Negeri ini memang kaya
****
Sumber : http://iwan-fals.blogspot.com/2010/11/negeri-kaya.html
Showing posts with label iwan fals. Show all posts
Showing posts with label iwan fals. Show all posts
Friday, March 4, 2011
Iwan Fals - About 2
IWAN FALS IS MY HERO
Pasar Seni Ancol, 25 tahun yang silam. Ia berjalan gagah di atas panggung sambil memboyong gitar bolong dan harmonika. Ratusan penonton di sekeliling panggung berteriak-teriak memanggil namanya. Ia tidak peduli – atau karena memang tidak pintar berbasa-basi – langsung menyanyikan “Siang Seberang Istana”, jauh sebelum lagu itu dinaikkan ke pita kaset. Penonton terdiam dan khusyu menyimak. Maklum, lagu baru di telinganya.
Usai lagu pertama, penonton berteriak-teriak, “Umar Bakri, Umar Bakri, Umar Bakri!” Lagu fenomenal tentang nasib Pak Guru tua yang nasibnya “senin- kamis” itu memang memiliki daya hipnotis nan dasyat. Hingga, nama sang penyanyi selalu didekatkan dengan judul lagu itu. Ia sadar akan maunya penonton.
“Tapi, yang di kaset sudah disensor.Men din g lagu lain yang lebih panas, belum disunat produser,” katanya tergagap-gagap. Penonton bersorak. Inilah keperkasaan sang penyanyi. Semua sama-sama sadar, daya tariknya adalah melalui lagu-lagu kritik sosial semacam itu. Maka, melodi “Guru Oemar Bakrie” pun mengalun dengan tokoh dalan lirik itu yang berganti menjadi Umar Macmud – maksudnya, Amir Machmud yang saat itu menjabat Ketua MPR/DPR. Kritik keras tanpa kendali meluncur dari mulutnya. Penonton makin kegirangan, berjingkrak-jingkrak, dan berteriak histeris. Ia makin asyik dan terus tak terkendali…
Seperti juga remaja lain yang rindu energi segar tentang perubahan di negara ini, saya termasuk penggila berat sang penyanyi. Selain mengoleksi kaset-kasetnya, mengkliping berita-berita dan gambar tentangnya lantas menempelnya di pintu kamar, saya juga rajin memburu tempat-tempatnya manggung. Saat itu saya begitu yakin, kekuatan lagu memang mampu menghadirkan spirit bagi pendengarnya. Bahkan, “kegilaan” seperti sang penyanyi!
Selang beberapa tahun, saya berjumpa kembali dengan sang idola saat sama-sama mendengarkan uraian Dosen Filsafat Komunikasi di Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik (IISIP). Sebenarnya, ia terdaftar sebagai mahasiswa sejak kampus itu bernama Sekolah Tinggi Publisistik. Lalu ia cuti dan kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Meski ia telah menjadi teman kuliah, toh kekuatan kharismanya tak pernah luntur di mata saya. Saya tetap kagum dan mengindolakannya.
Ketika ia menyanyikan lagi “Biarkan Indonesia tanpa Koran” di ultah kampus pada 1986, saya duduk tertib dan menyimaknya hingga habis sambil menahan nafas. Ratusan teman-teman yang lain juga bersikap sama. Ia memang perkasa.
# Penguasa sekarang mudah marah
# Berkata selaksa manusia yang resah
# Kedengar dari balik rumpun bambu
# Sedikitpun mereka tak mau diganggu
# Pada malam September delapan enam
# Berita Radius Prawiro bikin geram
# Empat puluh lima persen yang hilang
# Rupiah yang kita cinta berjalan pincang
Kini, semua hal tentangnya bisa didapat di mana-mana. DVD, VCD, CD, berlembar-lembar halaman cerita dan fotonya tercetak di berbagai media dan dunia maya. Setiap penggemarnya juga bisa menjabaterat tangannya di rumahnya di kawasan Leuwinanggung. Bahkan, sambil bermusik bersama-sama.
Popularitas sudah lama digenggamnya. Ia pernah dinobatkan sebagai Pahlawan Asia oleh MajalahTim e pada 2002. Predikat legenda juga disematkan berbagai komunitas atas dedikasinya terhadap dunia musik. Sejumlah parpol tanpa malu-malu mencoba menggandengnya. Singkatnya, Indonesia memang
tengah ada di genggamannya.
Tapi, ia tetap saja hadir dengan kesederhanaan berpikir, kalimat yang tergagap-gagap, sorot mata nan tajam, namun lantang saat memboyong gitar dan harmonika. Nuansa “bleching” di rambut dan kumis menguatkan bukti, ia memang tak muda lagi. Usianya mendekati 50. Hal itu juga yang menyadarkan saya, ternyata saya pun memiliki simbol-simbol “peringatan kematian” itu. Usia saya dengannya terpaut enam tahun. Artinya, saya pun bukan lagi remaja yang dulu tidak pernah punya malu untuk menyanyikan lagu-lagunya di pinggir jalan atau di dalam kamar. Atau, terkagum-kagum membaca setiap potongan artikel tentangnya yang ditempel di pintu kamar.
Yang pasti, kekaguman itu tak pernah luntur, meski ia sering bereksperimen dengan warna musik. Saya tetap menyukai setiap lagunya yang dimusiki Willy Soemantri, Bagoes A Ariyanto, Ian Antono, Billy J Budiarjo, Iwang Noersaid, atau kelompok bandnya yang sekarang. Saya juga tidak pernah mengubris, ia menjadi begitu “cengeng” dan “murahan” untuk menyanyikan lagu-lagu musisi baru. Bahkan, saya hanya tersenyum-senyum menyaksikannya memakai kemeja dan jas saat mendampingi Pasha Ungu di sebuah stasiun televisi swasta. Sedotan harmonika dan tarikan suaranya sudah memberikan label, ia tetaplah sang Perkasa itu.
Ia memang tidak muda lagi. Ia bukan lagi bocah kecil yang suka menangis ketika mendengar suara adzan. Entah, apa ia masih suka menangis bila melihat kejadian-kejadian tragis di depan matanya? Saya sangat yakin, uraian air mata itulah yang membuatnya peka untuk merekam setiap peristiwa di belahan Bumi Pertiwi ini. Ia juga tidak lagi mengamen dari tenda-tenda di Blok M dan berkumpul bersama pengamen KPJ lainnya.
Tapi, ia juga tidak bergabung dengan bapak-bapak terhormat di Gedung MPR/DPR Senayan atau kabinet. Namanya tidak masuk dalam daftar calon legislatif, calon lurah atau presiden, atau Ketua PSSI (padahal ia penggila sepak bola). Ia tetap membuat lagu dan bernyanyi. Pekerjaan tambahannya, bisa saja tetap rajin mengaji (seperti lagu “Doa” dalam album “Kupu-Kupu Hitam Putih”)
dan menemani para penggila-penggila yang menyebutnya PAHLAWAN. Konsistensinya berpikir dan pilihan hidup yang membuat saya akan terus memujanya sebagai PAHLAWAN. Bahkan, saya yakin, teman-teman yang tergabung dalam organisasi Orang Indonesia dan penggila terbarunya akan sepakat untuk menempatkannya sebagai PAHLAWAN – tanpa alasan bertele- tele, ketika ia konsisten dengan hidup untuk pilihan hatinya. Artinya, tanpa terpikir, untuk tiba-tiba banting stir dan memasuki ruang lain yang belum jelas bentuknya.
Dulu, saya menyukainya, karena merasa memiliki figur sehati dan mampu menyuarakan isi hati yang tersumbat. Sekarang, sepertinya suasana itu tidak pernah menjadi nostalgia. Tapi, tetap membekas tanpa lekang oleh rambut dan kumis yang memutih. Karena itu, kelak ketika Yang Mahahidup memanggilnya, saya tidak akan pernah mempersalahkan kematiannya; syahid atau tidak? Khusnul khotimah atau su’ul khotimah? Karena, saya tidak pernah menakar-nakar dengan filter apa pun masalah kepahlawanannya. Karena, penilaian itu murni dari dalam hati. Tanpa, paksaan atau dorongan pihak mana pun.
Ketika kegilaan itu terus meraja, saya tidak pernah lagi mengingat keindahan lagu-lagu John Denver, kedasyatan musik Phil Collins, atau kejelitaan Andrea Jane Corr. Saya juga tidak akan menggubris bila ada sebagian dari kita memiliki pahlawan-pahlawan lain, entah Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Jalaluddin Rakhmat, Emha Ainun Nadjib, Bambang Pamungkas, Cris John, Mbah Marijan, Ki Gendeng Pamungkas, Habib Rizieq Shihab, atau Amrozi. Itu kan pilihan anda. Buat saya, my hero is IWAN FALS! []
Komentar pembaca bisa diunduh di:
http://blog.liputan6.com/2008/11/10/iwan-fals-sang-perkasa
Sumber : http://www.scribd.com/doc/24054610/Iwan-Fals-is-My-Hero
Pasar Seni Ancol, 25 tahun yang silam. Ia berjalan gagah di atas panggung sambil memboyong gitar bolong dan harmonika. Ratusan penonton di sekeliling panggung berteriak-teriak memanggil namanya. Ia tidak peduli – atau karena memang tidak pintar berbasa-basi – langsung menyanyikan “Siang Seberang Istana”, jauh sebelum lagu itu dinaikkan ke pita kaset. Penonton terdiam dan khusyu menyimak. Maklum, lagu baru di telinganya.
Usai lagu pertama, penonton berteriak-teriak, “Umar Bakri, Umar Bakri, Umar Bakri!” Lagu fenomenal tentang nasib Pak Guru tua yang nasibnya “senin- kamis” itu memang memiliki daya hipnotis nan dasyat. Hingga, nama sang penyanyi selalu didekatkan dengan judul lagu itu. Ia sadar akan maunya penonton.
“Tapi, yang di kaset sudah disensor.Men din g lagu lain yang lebih panas, belum disunat produser,” katanya tergagap-gagap. Penonton bersorak. Inilah keperkasaan sang penyanyi. Semua sama-sama sadar, daya tariknya adalah melalui lagu-lagu kritik sosial semacam itu. Maka, melodi “Guru Oemar Bakrie” pun mengalun dengan tokoh dalan lirik itu yang berganti menjadi Umar Macmud – maksudnya, Amir Machmud yang saat itu menjabat Ketua MPR/DPR. Kritik keras tanpa kendali meluncur dari mulutnya. Penonton makin kegirangan, berjingkrak-jingkrak, dan berteriak histeris. Ia makin asyik dan terus tak terkendali…
Seperti juga remaja lain yang rindu energi segar tentang perubahan di negara ini, saya termasuk penggila berat sang penyanyi. Selain mengoleksi kaset-kasetnya, mengkliping berita-berita dan gambar tentangnya lantas menempelnya di pintu kamar, saya juga rajin memburu tempat-tempatnya manggung. Saat itu saya begitu yakin, kekuatan lagu memang mampu menghadirkan spirit bagi pendengarnya. Bahkan, “kegilaan” seperti sang penyanyi!
Selang beberapa tahun, saya berjumpa kembali dengan sang idola saat sama-sama mendengarkan uraian Dosen Filsafat Komunikasi di Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik (IISIP). Sebenarnya, ia terdaftar sebagai mahasiswa sejak kampus itu bernama Sekolah Tinggi Publisistik. Lalu ia cuti dan kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Meski ia telah menjadi teman kuliah, toh kekuatan kharismanya tak pernah luntur di mata saya. Saya tetap kagum dan mengindolakannya.
Ketika ia menyanyikan lagi “Biarkan Indonesia tanpa Koran” di ultah kampus pada 1986, saya duduk tertib dan menyimaknya hingga habis sambil menahan nafas. Ratusan teman-teman yang lain juga bersikap sama. Ia memang perkasa.
# Penguasa sekarang mudah marah
# Berkata selaksa manusia yang resah
# Kedengar dari balik rumpun bambu
# Sedikitpun mereka tak mau diganggu
# Pada malam September delapan enam
# Berita Radius Prawiro bikin geram
# Empat puluh lima persen yang hilang
# Rupiah yang kita cinta berjalan pincang
Kini, semua hal tentangnya bisa didapat di mana-mana. DVD, VCD, CD, berlembar-lembar halaman cerita dan fotonya tercetak di berbagai media dan dunia maya. Setiap penggemarnya juga bisa menjabaterat tangannya di rumahnya di kawasan Leuwinanggung. Bahkan, sambil bermusik bersama-sama.
Popularitas sudah lama digenggamnya. Ia pernah dinobatkan sebagai Pahlawan Asia oleh MajalahTim e pada 2002. Predikat legenda juga disematkan berbagai komunitas atas dedikasinya terhadap dunia musik. Sejumlah parpol tanpa malu-malu mencoba menggandengnya. Singkatnya, Indonesia memang
tengah ada di genggamannya.
Tapi, ia tetap saja hadir dengan kesederhanaan berpikir, kalimat yang tergagap-gagap, sorot mata nan tajam, namun lantang saat memboyong gitar dan harmonika. Nuansa “bleching” di rambut dan kumis menguatkan bukti, ia memang tak muda lagi. Usianya mendekati 50. Hal itu juga yang menyadarkan saya, ternyata saya pun memiliki simbol-simbol “peringatan kematian” itu. Usia saya dengannya terpaut enam tahun. Artinya, saya pun bukan lagi remaja yang dulu tidak pernah punya malu untuk menyanyikan lagu-lagunya di pinggir jalan atau di dalam kamar. Atau, terkagum-kagum membaca setiap potongan artikel tentangnya yang ditempel di pintu kamar.
Yang pasti, kekaguman itu tak pernah luntur, meski ia sering bereksperimen dengan warna musik. Saya tetap menyukai setiap lagunya yang dimusiki Willy Soemantri, Bagoes A Ariyanto, Ian Antono, Billy J Budiarjo, Iwang Noersaid, atau kelompok bandnya yang sekarang. Saya juga tidak pernah mengubris, ia menjadi begitu “cengeng” dan “murahan” untuk menyanyikan lagu-lagu musisi baru. Bahkan, saya hanya tersenyum-senyum menyaksikannya memakai kemeja dan jas saat mendampingi Pasha Ungu di sebuah stasiun televisi swasta. Sedotan harmonika dan tarikan suaranya sudah memberikan label, ia tetaplah sang Perkasa itu.
Ia memang tidak muda lagi. Ia bukan lagi bocah kecil yang suka menangis ketika mendengar suara adzan. Entah, apa ia masih suka menangis bila melihat kejadian-kejadian tragis di depan matanya? Saya sangat yakin, uraian air mata itulah yang membuatnya peka untuk merekam setiap peristiwa di belahan Bumi Pertiwi ini. Ia juga tidak lagi mengamen dari tenda-tenda di Blok M dan berkumpul bersama pengamen KPJ lainnya.
Tapi, ia juga tidak bergabung dengan bapak-bapak terhormat di Gedung MPR/DPR Senayan atau kabinet. Namanya tidak masuk dalam daftar calon legislatif, calon lurah atau presiden, atau Ketua PSSI (padahal ia penggila sepak bola). Ia tetap membuat lagu dan bernyanyi. Pekerjaan tambahannya, bisa saja tetap rajin mengaji (seperti lagu “Doa” dalam album “Kupu-Kupu Hitam Putih”)
dan menemani para penggila-penggila yang menyebutnya PAHLAWAN. Konsistensinya berpikir dan pilihan hidup yang membuat saya akan terus memujanya sebagai PAHLAWAN. Bahkan, saya yakin, teman-teman yang tergabung dalam organisasi Orang Indonesia dan penggila terbarunya akan sepakat untuk menempatkannya sebagai PAHLAWAN – tanpa alasan bertele- tele, ketika ia konsisten dengan hidup untuk pilihan hatinya. Artinya, tanpa terpikir, untuk tiba-tiba banting stir dan memasuki ruang lain yang belum jelas bentuknya.
Dulu, saya menyukainya, karena merasa memiliki figur sehati dan mampu menyuarakan isi hati yang tersumbat. Sekarang, sepertinya suasana itu tidak pernah menjadi nostalgia. Tapi, tetap membekas tanpa lekang oleh rambut dan kumis yang memutih. Karena itu, kelak ketika Yang Mahahidup memanggilnya, saya tidak akan pernah mempersalahkan kematiannya; syahid atau tidak? Khusnul khotimah atau su’ul khotimah? Karena, saya tidak pernah menakar-nakar dengan filter apa pun masalah kepahlawanannya. Karena, penilaian itu murni dari dalam hati. Tanpa, paksaan atau dorongan pihak mana pun.
Ketika kegilaan itu terus meraja, saya tidak pernah lagi mengingat keindahan lagu-lagu John Denver, kedasyatan musik Phil Collins, atau kejelitaan Andrea Jane Corr. Saya juga tidak akan menggubris bila ada sebagian dari kita memiliki pahlawan-pahlawan lain, entah Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Jalaluddin Rakhmat, Emha Ainun Nadjib, Bambang Pamungkas, Cris John, Mbah Marijan, Ki Gendeng Pamungkas, Habib Rizieq Shihab, atau Amrozi. Itu kan pilihan anda. Buat saya, my hero is IWAN FALS! []
Komentar pembaca bisa diunduh di:
http://blog.liputan6.com/2008/11/10/iwan-fals-sang-perkasa
Sumber : http://www.scribd.com/doc/24054610/Iwan-Fals-is-My-Hero
Iwan Fals - About 1
Casey Sloan
Advanced Indonesian
Response Paper #3
Iwan Fals
Ternyata Iwan Fals, yang salah satu pemain musik yang paling terkenal di Indonesia, memulai karir musiknya sebagai pengamen di jalan-jalan kota Bandung. Katanya dimulai waktu dia hanya berumur tiga belas tahun. Saat itu, dia belajar bermain gitar dari teman-teman mainnya dan sejak gitar sangat mempengaruhi sikap dan hidupnya. Dia bilang, “memang pandangan masyarakat waktu itu menganggap pengamen identik dengan pengemis.
Maka dari itu jarang sekali
pengamen yang beroperasi.”
Saya bersetuju, tapi menurut saya, masyarakat Indonesia - setidaknya Jawa - masih berpendapat begitu terhadap pengamen. Seb- etulnya, terkadang mereka sama, kan? Maksud saya, waktu saya di Salatiga musim panas ini, ada banyak pengamen yang dilihat. Biasan- ya, mereka mendekati mobil-mobil sementara berhenti di tanda lalu lintas. Anehnya, sering mereka tidak bermain alat musiknya sama sekali. Mereka memegangnya saja dengan salah satu tangan dan dengan yang lain minta uang.
Kemungkinan besar pendepat
masyarakat umum seperti itu sebab pengalaman begitu. Sulit sekali saya membayangkan Iwan Fals sebagai anak jalan seperti yang terse- but. Tapi selain itu, di Salatiga saya juga melihat pengamen yang bagus sekali. Biasanya mereka bermain lagu-lagunya di warung makan untuk lagganan. Pasti susah mencari makan sebagai pemain musik kalau belum terkenal. Bahkan setelah menjadi agak terkenal, mungkin masih menerima pendapatan yang kecil. Iwan Fals mengatakan ses- udah masuk televisi pada tahun 1987 pendapatannya masih tidak cukup untuk dia sama keluarganya.
Untuk menutupi kebutuhan mereka, dia harus “tarikan gelap,” yang artinya mencari makan secara yang tidak resmi. Dia terpaksa mendapat uang dari sumber yang lain. Makanya, akhirnya dia mengompreng dengan mobilnya sendiri. Keluar- ganya tidak tahu.
Sebelum menjadi pengamen di jalan-jalan Bandung sementara kuliah SMP, dia tinggal bersama dengan omnya di Saudi Arabia. Si sana gitarnya dipakai sebagai hiburan. Tapi, dia belum “jago” bermain gitar. Hanya dua lagu yang dia sudah menghafalkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya. Setelah sudah pulang ke Bandung di mana dia nongkrong dengan teman-temannya, dia menjadi iri sendiri karena
mereka bisa memainkan lagu-lagu yang sangat keren. Karena dia
tidak bisa, memutuskan membuat lagunya sendiri.
Tentu saja Iwan Fals dikenal untuk lagu-lagu yang politik dan mencela pemerintah Orde Baru, tapi selain itu ada banyak lagu yang agak lucu. Katanya, memulai mebuat lagu-lagu seperti tu sehingga temannya ketawa dan bersedia mendengarkannya. Sebetulnya, biasan- ya lagunya adalah pernataan politik bercampur dengan lirik-lirik yang lucu.
Contohnya, di lagu yang berjudul Guru Oemar Bakrie musik yang
cepat dan menyenangkan dipakai.
Juga, liriknya bercanda-canda, khususnya dengan lukisan tokoh guru Bakrie sendiri. Tapi jelasnya, lagu itu tentang bagaimana waktu itu guru-guru harus bekerja dengan ngabdi kepada orang berkuasa tapi masih menerima sebuah gaji yang rendah sekali. Kepandaian Iwan dipertunjukkan lirik-lirik yang katanya gaji pak Bakrie dikabiri. Walapun artinya gajinya diturunkan, juga artinya guru Bakrie sendiri terpaksa berlaku seperti orang yang dikabiri. Lagu itu juga tentang bagaimana mahasiswa dilarang ber- politik waktu itu. Karena itu, pada tahun akhir tujuh puluhan, waktu lagu Guru Oemar Bakrie ditulis, protes harus terselubung. Memakai
lirik yang humor adalah salah satu jalan untuk menyembunyikan se-
buah lagu yang protes.
Sumber : http://www.scribd.com/doc/20036638/Iwan-Fals
Advanced Indonesian
Response Paper #3
Iwan Fals
Ternyata Iwan Fals, yang salah satu pemain musik yang paling terkenal di Indonesia, memulai karir musiknya sebagai pengamen di jalan-jalan kota Bandung. Katanya dimulai waktu dia hanya berumur tiga belas tahun. Saat itu, dia belajar bermain gitar dari teman-teman mainnya dan sejak gitar sangat mempengaruhi sikap dan hidupnya. Dia bilang, “memang pandangan masyarakat waktu itu menganggap pengamen identik dengan pengemis.
Maka dari itu jarang sekali
pengamen yang beroperasi.”
Saya bersetuju, tapi menurut saya, masyarakat Indonesia - setidaknya Jawa - masih berpendapat begitu terhadap pengamen. Seb- etulnya, terkadang mereka sama, kan? Maksud saya, waktu saya di Salatiga musim panas ini, ada banyak pengamen yang dilihat. Biasan- ya, mereka mendekati mobil-mobil sementara berhenti di tanda lalu lintas. Anehnya, sering mereka tidak bermain alat musiknya sama sekali. Mereka memegangnya saja dengan salah satu tangan dan dengan yang lain minta uang.
Kemungkinan besar pendepat
masyarakat umum seperti itu sebab pengalaman begitu. Sulit sekali saya membayangkan Iwan Fals sebagai anak jalan seperti yang terse- but. Tapi selain itu, di Salatiga saya juga melihat pengamen yang bagus sekali. Biasanya mereka bermain lagu-lagunya di warung makan untuk lagganan. Pasti susah mencari makan sebagai pemain musik kalau belum terkenal. Bahkan setelah menjadi agak terkenal, mungkin masih menerima pendapatan yang kecil. Iwan Fals mengatakan ses- udah masuk televisi pada tahun 1987 pendapatannya masih tidak cukup untuk dia sama keluarganya.
Untuk menutupi kebutuhan mereka, dia harus “tarikan gelap,” yang artinya mencari makan secara yang tidak resmi. Dia terpaksa mendapat uang dari sumber yang lain. Makanya, akhirnya dia mengompreng dengan mobilnya sendiri. Keluar- ganya tidak tahu.
Sebelum menjadi pengamen di jalan-jalan Bandung sementara kuliah SMP, dia tinggal bersama dengan omnya di Saudi Arabia. Si sana gitarnya dipakai sebagai hiburan. Tapi, dia belum “jago” bermain gitar. Hanya dua lagu yang dia sudah menghafalkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya. Setelah sudah pulang ke Bandung di mana dia nongkrong dengan teman-temannya, dia menjadi iri sendiri karena
mereka bisa memainkan lagu-lagu yang sangat keren. Karena dia
tidak bisa, memutuskan membuat lagunya sendiri.
Tentu saja Iwan Fals dikenal untuk lagu-lagu yang politik dan mencela pemerintah Orde Baru, tapi selain itu ada banyak lagu yang agak lucu. Katanya, memulai mebuat lagu-lagu seperti tu sehingga temannya ketawa dan bersedia mendengarkannya. Sebetulnya, biasan- ya lagunya adalah pernataan politik bercampur dengan lirik-lirik yang lucu.
Contohnya, di lagu yang berjudul Guru Oemar Bakrie musik yang
cepat dan menyenangkan dipakai.
Juga, liriknya bercanda-canda, khususnya dengan lukisan tokoh guru Bakrie sendiri. Tapi jelasnya, lagu itu tentang bagaimana waktu itu guru-guru harus bekerja dengan ngabdi kepada orang berkuasa tapi masih menerima sebuah gaji yang rendah sekali. Kepandaian Iwan dipertunjukkan lirik-lirik yang katanya gaji pak Bakrie dikabiri. Walapun artinya gajinya diturunkan, juga artinya guru Bakrie sendiri terpaksa berlaku seperti orang yang dikabiri. Lagu itu juga tentang bagaimana mahasiswa dilarang ber- politik waktu itu. Karena itu, pada tahun akhir tujuh puluhan, waktu lagu Guru Oemar Bakrie ditulis, protes harus terselubung. Memakai
lirik yang humor adalah salah satu jalan untuk menyembunyikan se-
buah lagu yang protes.
Sumber : http://www.scribd.com/doc/20036638/Iwan-Fals
Iwan Fals - Badut
Dut badut badut badut badut badut badut jaman sekarang
Mong omong omong omong omong omong omong omong sembarang
di televisi, di korang-koran
di dalam radio, di atas mimbar
...
Gut manggut manggut manggut manggut manggut manggut seperti badut
yaiya iya iya iya iya iya lhaiya iya
whohoho...hohouwouwoho
Peragawati peragawan senyam senyum seperti badut
penyanyi dan pemusik bintang film nampang seperti badut
di televisi, di koran-koran
di dalam radio, di atas mimbar
Ku aku aku aku aku aku aku seperti kamu
Mu kamu kamu kamu kamu kamu kamu seperti badut
wohoho...hohouwouwoho
Para pengaku intelek tingkah polahnya lebihi badut
Kaum pencuri tikus politikus palsu saingi badut
di televisi, di koran-koran
di dalam radio, di atas mimbar
Download
.
Iwan Fals - Surat Buat Wakil Rakyat
Surat Buat Wakil Rakyat
Iwan Fals ( Album Wakil Rakyat 1987 )
Untukmu yang duduk sambil diskusi
...Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan di lotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR
Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”
.
Dowload
.
Subscribe to:
Posts (Atom)


